Buletin Remaja Takmir Al-Hurriyah

Sunday, December 21, 2008

MISTERI TRINITAS

Tanya

Dari mana asal ide Dosa Warisan?

Jawab

Dari filsafat Yunani yang diperkenalkan oleh Origen, bapak teologi YUnani. Filsafat Yunani yang diperkenalkan Origen ini dijelaskan oleh Tony Lane dalam bukunya Christian Thought, 1984, hal 22-23:

  • "The foundation is Christian while the further development tends to be thoroughly Greek. This is seen clearly in his doctrine of salvation. He can explain how Jesus Christ died for our sins on the cross and ransomed us from the devil"
    (Dasarnya adalah Kristen ketika perkembangan selanjutnya sepenuhnya (dipengaruhi filsafat) Yunani. Ini nampak jelas dari ajaran keselamatan yang dia ajarkan. Dia dapat menjelaskan bagaimana Yesus Kristus mati untuk menembus dosa kita di tiang salib untuk menebus kita dari (kekuasaan) setan)

Teologi Yuniani ini kemudian dimasukkan ke dalam ajaran Kristen oleh Athanasius (297-373M). Dalam bukunya The Incarnation of the Word, hal 20 dia mengatakan :

  • "After he has demonstrated his deity by his works, he offered his sacrifice on behalf of all and surrendered his temple (body) to death in the place of all men"
    (Setelah menjalankan tugas ketuhannnya, dia menyerahkan dirinya sebagai korban untuk semua dan menyerahkan dirinya untuk mati demi menebus semua manusia)

Ini sangat bertentangan dengan ajaran Yesus yang mengajarakan bahwa keselamatan dapat dicapai dengan bertaqwa kepada Allah.

"Jawab Yesus: `Apakah sebabnya engkau bertanya kepadaKu tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik (Tuhan Allah). Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup (sorga), turutilah segala perintah Allah". (Matius 19:17)

"Inilah hidup yang kekal itu (sorga), yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engaku utus" (Yohanes 17:3)

Sejak ide dosa warisan diperkenalkan oleh Athanasius, pemimpin gereja lainnya seperti Arius dan pengikut-pengikutnya menentang ajaran yang dipetik dari ajaran penyembah berhala ini. Arius menggunakan ayat-ayat Kitab Perjanjian Lama untuk membuktikan bahwa tidak ada satu pun nabi di Perjanjian Lama yang mengajarkan dosa warisan. Namun Athanasius pun tidak kehabisan akal. Dia memetik ayat-ayat Perjanjian Lama kemudian menafsirkannya sesuai apa yang dia inginkan.

Tanya

Apakah Trinitas itu suatu misteri?

Jawab

Trinitas adalah tiga Tuhan dalam satu. Tuhan Allah adalah misteri. Tak seorang pun pernah melihat atau mengetahui seperti apa Tuhan itu. Yesus adalah manusia dengan tulang dan daging. Beliau hidup di dunia ini sebagai orang yang memiliki sejarah hidup. Roh Kudus adalah "Tuhan" ciptaan Konsili yang tidak dikenal di zaman Yesus.

"....kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus". (Kis. 19:2)

Naskah Laut Mati yang di tulis di zaman Yesus tidak pernah menyebut tentang Roh Kudus yang di sembah.

Reverend Dr. Charles Francis Potter dalam bukunya The Lost Year of Yesus Revealed, 1992, hal 16, menjelaskan:

  • "Few believing Christians yet realize (for few scholar are yet adminitting) how many important doctrines are doe to be change radically, and how many others should eventually be eliminated when the Scroll are properly recognized and evaluated in relation to the New Testament. The very vulnerable doctrine of the Holly Spirit will have to go, as we shall see, and will take with it inevitably the doctrine of the Trinity, which was never in the Bible anyway".
    (Hanya sedikit pemeluk agama Kristen yang hingga saat ini menyadari (sebagaimana hanya sedikit para ilmuwan yang hingga saat ini mau mengakui), betapa banyak ajaran dasar agama Kristen yang harus dirubah secara radikal dan beberapa banyak lainnya yang harus di singkirkan (dari Alkitab) bila Naskah (Laut mati) diakui dan dipelajari dengan benar dalam hubungannya dengan Kitab Perjanjian Baru. Ajaran yang paling lemah dan harus di singkirkan adalah tentang Roh Kudus, sebagaimana yang terlihat (dalam Naskah Laut Mati), dan tanpa bisa dihindari, ajaran tentang Trinitas harus pula ikut tersingkir, karena sama sekali tidak pernah diajarkan dalam Alkitab)

Biarawati dan penulis kawakan Karen Armstrong dalam bukunya A History of God hal. 135, mengutip pernyataan Gregory of Nazianzus, tokoh pemikir Trinitas di abad ke IV yang menceritakan bagamana Roh Kudus yang tidak dikenal di zaman Yesus menimbulkan berbagai permasalahan ketika mulai diperkenalkan di abad ke IV.

  • "The Cappadocians were also anxious to develop the notion of the Holy Spirit, which they fe(t have been dealt with very perfunctorily at Nicea: `And we believe in the Holy Spirit' seemed to have been added to Athanasius's creed almost as an after thought. People were confused about the Holy spirit. Was it simply a synonym for God ar was it something more? `Some have conceived (the Holy Spirit) as an activity', noted Gregory of Nazianzus, `some as a creature, some as God and some have been uncertain what to call him".
    (Golongan Cappadocian (Pendukung Trinitas) juga pusing untuk menetapkan pengertian Roh Kudus, yang dulu mereka sama sekali mengabaikannya pada Konsili di Nicea: `Dan Kami percaya kepada Roh Kudus' nampaknya baru ditambahkan ke Credo Athanasius (di Necia) setelah dipikirkan kemudian. Masyarakat dibuat bingung tentang apa sesungguhnya Roh Kudus itu. Apakah ini sama dengan Tuhan ataukah sesuatu yang lain? `Sebagian orang menganggap (Roh Kudus) sebagai suatu kegiatan', kata Gregory of Nazianzus, sebagian lagi menganggapnya makhluk, sebagian menganggapnya Tuhan, dan sebagian lagi tidak tahu mau menyebutnya apa).

Oleh karena itu untuk menyatakan bahwa Allah yang tidak tampak, manusia Yesus yang memiliki tulang dan daging dan Roh Kudus yang tidak pernah dikenal di zaman Yesus adalah suatu zat, memang dapat dianggap misteri yang artinya aneh bin ajaib. Doktrin ini membingungkan pencetusnya sendiri serta para agamawan Kristen. Mereka kesulitan menjelaskan ajaran penyembah berhala ini dalam konteks Kristen. Ujung-ujungnya mereka menetapkan doktrin Trinitas sebagai suatu misteri (Cave 1997).

Perhatikan bagaimana pengkuan jujur "Romonya" Trinitas, Athanasius, dalam buku The Decline and Fall of the Roman Empire yang ditulis oleh Edward Gibbon:

  • "Christian Theologian, the great Athanasius himself, has candidly confessed that whenever he forced his understanding to mediate on the divinity of the Logos, his toilsome and unavailing efforts recoiled on themselves; that the more he thought, the less he comprehend; and the more he wrote, the less capable was he expressing his thought".
    (Teolog besar Kristen Athanasius sendiri secara terbuka mengakui bahwa semakin dia memaksakan pengertiannya untuk menjelaskan ketuhanan Logos (Firman), segala daya dan upaya yang diusahakannya kandas dengan sendirinya; bahwa semakin dia berfikir, semakin dia kurang memahami; semakin banyak penulis, semakin kurang kemampuan menjelaskan jalan pikirannya).

Baru saja Athanasius mencoba memformulasikan hubungan Yesus sebagai Logos (Firman) penyembah berhala dengan Tuhan Allah, dia sudah pusing. Belum lagi di tambah dengan "Tuhan" Roh Kudus.

Monsignor Eugene Clark mengakui konsep Trinitas sulit dimengerti. Untuk itu menurut dia, sebaiknya konsep Trinitas diterima saja walaupun tidak dimengerti.

  • "God is one, God is three. Since there is nothing like this in creation, we cannot understand it, but anly accept it"
    (Tuhan itu satu, Tuhan itu tiga. Karena tidak ada yang seperti ini di alam ini, sehingga kita terima saja walaupun kita tidak mengerti).

Hubungan ketiga oknum dalam Trinitas dengan susah payah diciptakan oleh Gereja di tengah-tengah pertentangan, kontroversi dan malah pertumpahan darah. Pemimpin Gereja terpaksa harus mengeluarkan pernyataan untuk menerima ajaran Kristen tanpa harus menyelidikinya. Uskup Agung Anslem, pemimpin Gereja di Canterbury (1093-1109) dalam bukunya Prosologian I, mengatakan:

  • "For 1 am not seeking to understand in order to believe, but 1 believe in order that 1 may understand"
    (Saya tidak perlu mengerti untuk percaya, tetapi saya percaya agar saya mengerti).

Selanjutnya dalam bukunya Cur Deus Homo 1:2 dia menjelaskan urut-urutan menerima ajaran yang misterius dalam Kristen :

  • " The correct order is to believe the deep thing of Christian faith before undertaking to discuss them by reason......so that even though 1 totally unable to understand it, nothing could shake the constancy of my belief."
    (Urutan yang tepat adalah meyakini keimanan Kristen secara mendalam lebih dahulu, baru kemudian mendiskusikannya berdasarkan akal sehat....dengan demikian, walaupun saya tidak mengerti sama sekali, tidak ada yang akan dapat mengguncang keteguhan iman saya).

Kalau sudah begini keadaannya, berarti tidak ada lagi jalan bagi mereka yang ingin mempertanyakan kebenaran suatu ajaran sebelum diyakini. Kalau yang diajarkan kepada kita adalah sesuatu yang salah, sekuat apa pun kita mengimaninya, ya, tetap saja salah, dan konsekwensinya kita akan dicampakkan ke dalam api neraka.

Kalau gereja sudah mengatakan demikian, sementara Yesus tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas, berarti kita diberi kesan seakan-akan Yesus sengaja menipu umatnya bani Israel, hanya untuk menyenangkan para penyembah berhala di kerajaan Romawi.

Tanya

Mengapa umat Kristen dapat menerima ide yang tidak masuk akal ini?

Jawab

Para penginjil menurut Dr. Bruce Goldbert dalam bukunya " New Age Hypnosis" hal. 2, sudah terlatih dalam pemanfaatan jurus-jurus hipnotisme dan sugesti. Melalui teknik-teknik ini, dengan mudah mereka menaklukkan alam bawah sadar jemaat atau individu. Mereka menggunakan cara-cara ini untuk mencuci otak jemaat agar mudah memerima pesan-pesan, baik yang masuk akal maupun yang tidak masuk akal, yang dikemas dengan retorika yang mempesona. Dengan cara ini mereka dapat membuat sesuatu yang tidak masuk akal seakan-akan masuk akal. Sementara jemaat yang sudah "berserah diri" hanya mampu menyahut " Amin, Amin". Gordon Urquhart dalam bukunya The Pope's Armada, 1995, pada halaman belakang menjelaskan misi rahasia Kristen mencuci otak jemaat:

  • "The three most powerful of the ultra tradition-alist movement within the Catholic Church engage in secret initiation ceremonies, brainwashing techniques involving ego destruction, moral and spiritual intimidation and highly questionable, even dangerous psychtherapeutic practices."
    (Tiga kekuatan besar gerakan ultra-tradisional dalam Kristen Katolik, terlibat dalam upacara rahasia penerimaan anggota, teknik cuci otak termasuk penghancuran pribadi seseorang, intimidasi moral dan spiritual serta praktek­praktek pengobatan spiritual yang tidak lazim dan malah berbahaya).

Tertullian dalam bukunya "The Flesh of Christ", hal. 5, memainkan jurus ini :

  • "The Son of God was crucified. 1 am not ashamed because it shameful. The Son of God died. It is credible because it is absurd. He was buried and rose again. It is certain because it is impossible".
    (Anak Tuhan di salib. Saya tidak malu karena ini memalukan. Anak Tuhan mati. Ini dipercaya karena tidak masuk akal. Dia dikuburkan dan bangkit kembali. Ini pasti karena tidak mungkin).

Mike Velarde, salah seorang pemimpin Kristen kharismatik di Filipina memperlihatkan keampuhan pengaruhnya terhadap lebih sejuta pengikutnya dilapangan Philippine International Convention Center dengan mengatakan bahwa mereka dapat memperoleh rejeki dari Tuhan dengan membalikkan payungnya keatas untuk menampung rejeki dari langit. Kemampuan Mike Velarde ini dikomentari oleh Pastor Robert Reyes di Harian Philippine Daily Inquirer terbitan 29 Desember 1999, hal. 9:

  • "Mike Velarde is better because he manages to fool poor people into believeing that he can make them rich. The people are desperate. Any promise that gives them hope to go for improved life, they'll grab it"
    (Mike Velarde lebih cerdik karena dia mampu memperdaya orang-orang miskin untuk percaya bahwa dia dapat membuat mereka menjadi kaya raya. Rakyat cukup menderita. (Oleh karena itu) setiap janji yang memberi mereka harapan untuk meningkatkan taraf hidup mereka, akan mereka rebut).

MATIUS 28:19 BUKAN UCAPAN YESUS?


Tanya

Bagaiamana membuktikan bahwa Matius 28:19 bukan ucapan Yesus?

Jawab

Di zaman Yesus dan murid-muridnya, mereka yang ingin menjadi anggota suatu kelompok harus menyatakan kesetian mereka kepada kelompok tersebut melalui pembaptisan. Dalam Islam cara ini disebut bai'at. Pada saat itu mereka yang ingin menjadi anggota kelompok Yohanes Pembaptis atau muridnya, misalnya Apollo. Sebelum membentuk kelompok sendiri, Yesus pernah menjadi anak buah Yohanes dan dibai'at (dibaptis) atas nama Yohanes serta menyatakan kesetiaanya kepada Yohanes Pembaptis.

"Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan la dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes". (Markus 1:9)

Setelah Yesus membentuk kelompok sendiri, mereka yang ingin masuk ke dalam kelompok Yesus harus di bai'at (dibaptis) "atas nama" Yesus dan menyatakan kesetian mereka kepada Yesus.

Oleh karena itu pembaptisan atas nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus sebagaimana Matius 28:19 adalah aneh dan tidak masuk akal. Di zaman Yesus dan murid-muridnya tidak pernah nama Bapa dan Roh Kudus diikut-ikutkan dalam upacara pembaptisan. Untuk lebih jelasnya perhatikanlah pernyataan Pakar Pemikiran Kristen, Paul Tillich dalam bukunya A History of Christian Tnougnt.

  • "Baptism was the sacrament of entrance into the church...then he was baptized in the name o f Christ. Later on the name o f God the Father and the Spirit ware added".
    (Pembaptisan merupakan upacara memasuki suatu kelompok Kristen (gereja).... Lalu dia dibaptis atas nama Kristus. Kemudian barulah nama Tuhan Bapa dan Roh Kudus ditambahkan).

Di zaman Yesus dan murid-muridnya ide Roh Kudus sebagai Tuhan atau sesuatu yang disembah tidak pernah dikenal. Hal ini dengan jelas dapat dilihat dalam Kitab "Kisah Para Rasul" ketika paulus menanyai murid Yohanes Pembaptis di Eferus.

"Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya: " akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus. " ( Ki s 19 : 2 )

Tanya

Apakah para Pastor, Pendeta dan Penginjil mengetahui bahwa Yesus bukan Tuhan dan bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan Trinitas?

Jawab

Para Pastor, Pendeta dan Penginjil telah ditatar oleh Para Pakar Alkitab bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan Trinitas bahwa Yesus bukanlah oknum kedua dari Trinitas. Robert Funk, Professor Ilmu Perjanjian Baru, Universitas Harvard menjelaskan:

  • "Jesus was nothing more than a man wi th avision f or d ecad es, they (the scholar) have taught it to generation of priest and ministers, who do not pass i t along to their f locks because they f ear the backlash o f anger. So the only ones le f t in the dark are ordinary Christians. "
    (Yesus hanyalah seorang manusia yang berpandangan luas selama berpuluh­puluh tahun, mereka (para pakar Alkitab) telah mengajarkannya kepada para pastor dan pendeta, yang pada gilirannya (para pastor dan pendeta ini) tidak menyampaikannya kepada jamaat mereka karena takut didamprat. Oleh sebab itu umat Kristianilah yang dibiarkan tetap berada dalam kegelapan)

Tanya

Siapa yang mengajarkan Trinitas?

Jawab

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, mereka yang memperkenalkan dan mengajarkan Trinitas adalah para pemimpin Gereja yang umumnya memiliki latar belakang paham penyembah berhala. Buku Should You Believe in the Trinity yang diterbitkan oleh Watchtower and bible Tract Society of Pennsylvania, 1989 menjelaskan:

  • "Throughout the ancient world, as f ar back as Babylonia the worship o f pagan gods grouped in triplets were common. This practice was a(so prevalent, be f ore, during, and a f ter Christ in Egypt, Greece and Rome".
    (Dunia di zaman purbakala, sejak masa kerajaan Babilonia, sudah terbiasa menyembah berhala, tiga Tuhan dalam satu. Kebiasaan ini juga banyak ditemukan di Mesir, Yunani dan Romawi, baik sebelum, selama, maupun sesudah Yesus)

Cave dalam bukunya Is the Trinity Doctrine divinely Inspired?, menambahkan:

  • "A f ter the death o f the Apostles, such pagan belie f s began to invade Christianity"
    (Sesudah kematian murid-murid Yesus, kepercayaan penyembah berhala ini kemudian merasuk ke dalam agama Kristen)

Filsafat Platonis dan Stoic yang diajarkan Plato (?-347 SM) dan Zeno (?-263 SM) tentang Logos menjadi jembatan untuk mempertuhankan Yesus menuju konsep Trinitas yang dinanti-nantikan para penyembah berhala untuk dikawinkan dengan ajaran Kristen. Ajaran tiga Tuhan dalam satu yang dianut para penyembah berhala inilah yang menginspirasi para pemimpin Gereja unutk mengembangkan ajaran tersebut dalam Kristen. Upaya para pemimpin Gereja yang saat itu dikenal dengan golongan Apologis untuk mengawinkan ajaran filsafat Yunani dengan ajaran Kristen dijelaskan oleh Paul Tilich dalam bukunya A History of Christian Thought sebagai berikut:

  • "The Apologist arose to attempt a joining of Christianity dan Greek thought"
    (Para pemimpin Gereja yang umumnya Aplogis (mereka yang ingin mengawinkan filsafat Yunani dengan ajaran Kristen) bangkit untuk mencoba mengawinkan ajaran Kristen dengan filsafat Yunani)

Di satu pihak umat Kristen memiliki Yesus yang diambil dari Yahudi, sememtara dipihak lain, para pengikut ajaran Platonis dan Stoic memiliki Logos yang diambil dari Plato (?-347 SM) dan zeno (?-263 SM). Hasil akhir dari perpaduan keduanaya yang diterima oleh umat Krsistiani adalah Logos Yesus. Yesus bukan lagi sekedar seorang Nabi Isa untuk bani Israel, tetapi sudah berubah menjadi

Yesus baru yang penuh dengan embel-embel Platonis dan Stoic- Yesus Kristus anak Allah, perantara antara Tuhan dan manusia, Tuhan dan juru selamat.

Athanasius kemudian menambahkan satu Tuhan lagi yakni Roh Kudus untuk melengkapi Ketuhanan Kristen menjadi Tiga dalam Satu (Trinitas), persis seperti ajaran Ketuhanan Agama Mesir, dimana Athanasius berdomisili.

Pengaruh agama Mesir terhadap Kristen dijelaskan oleh Cave sebagai berikut:

  • "The Trinity was a major preoccupation of Egytian theologians.... Three gods are combinet and treated as single being, addressed in the singular. In this way the spiritual force of Egyptian religion shows a direct ling with Christian theology"
    (Trinitas merupakan paham utama para penganut agama Mesir.... Tiga Tuhan bersatu dan diperlakukan sebagai satu, yang disebut esa. Dalam hal ini nampak kekuatan spiritual agama Mesir yang langsung mempengaruhi agama Kristen)

Tanya

Mengapa para pemimpin Gereja mencetuskan ajaran-ajaran seperti trinitas yang tidak ada dasarnya dalam Alkitab?

Jawab

Apa saja yang ditetapkan oleh Kaisar Romawi dan para pemimpin Gereja dianggap benar, sah dan berlaku untuk umat pada saat itu. Kebenaran dalam Kristen berubah dari satu konsili ke konsili lainnya. Kebenaran sangat tergantung kepada golongan mana yang mayoritas dalam konsili, atau golongan mana yang didukung oleh Kaisar Romawi. Oleh karena itu, kutuk mengutuk dalam setiap konsili merupakan hal yang lumrah. Ignatius dalam suratnya kepada orang-orang Smyrna mengatakan:

  • "Where the bishop is, there the congregation should be Prophets who appear may be riqht or wrong, but the bishop is right, because the bishop were the representative of the true doctrine"
    (Apa saja pendapat sikap uskup, jemaat harus mengikutinya. Para Nabi boleh benar atau salah, tetapi uskup selalu benar, karena uskup adalah yang mewakili ajaran yang benar)

Keputusan-keputusan Gereja yang di luar ajaran Yesus dilindungi oleh hukum keimanan (regulafidei). Apa yang sudah diyakini dan diucapkan oleh pemimpin Gereja menjadi hokum yang mutlak berlaku, walaupun tidak ada dasarnya atau tidak sejalan dengan Alkitab.

Alhasil ajaran Trinitas tumbuh subur dan berkembang dari satu konsili ke konsili lainnya, bukan karan ajaran Trinitas merupakan ajaran yang dipetik dari ajaran murni Yesus, tetapi karena kaisar Romawi mendukung ajaran ini menjadi ajaran resmi kerajaan.

Tanya

Mengapa orang-orang Romawi begitu mudah menerima Yesus sebagai Tuhan mereka?

Jawab

Karena tersebarnya berita bahwa "katanya" Yesus mati, "katanya" Yesus bangkit kembali pada hari ketiga, "katanya" terangkat ke surga. Mereka tidak pernah melihat atau bertemu dengan Yesus apalagi tinggal bersama-sama dengan beliau. Mereka menciptakan cerita tentang kamatian, kebangkitan serta terngkatnya Yesus ke sorga sesuai dengan kepentingan mereka, lama setelah Yesus tiada.

Uskup Agung Prof. David Jenkins, salah seorang pemimpin Gereja tertinggi di Inggris, dalam wawancaranya dengan TV di London dalam program "Credo" menegaskan bahwa ajaran Ketuhanan dan Kabangkitan Yesus sesungguhnya tidak benar.

  • "Were not strictly true but were added to the story of Jesus by the early Christians to express their faith in him as a Messiah"
    (Ajaran tentang ketuhanan dan kebangkitan Yesus sesungguhnya tidaklah benar, tetapi baru ditambahkan dalam cerita tentang Yesus oleh para penulis Kristen untuk mendukung keimanan mereka (bahwa Yesus) adalah Kristus)

Merekapun merubah, menambahkan atau mengurangi ucapan-ucapan Yesus, atau sekalian menciptakan ucapan-ucapan baru dan mengatakan bahwa ucapan tersebut diucapkan Yesus (misalnya Matius 28:19) hanya untuk mendukung keimanan mereka tentang Tuhan mereka yang mati, bangkit kembali lalu terangkat ke sorga.

Prof. Alvar Ellegard dalam bukunya Jesus One Hundred Year Before Christ ha1.19, mendukung kenyataan ini dengan mengatakan"

  • "Their aim was to launch a story which brought aout the conception abouth Jesus that they and their churches had formed, from whatever material they found suitable: historical sources, fictional stories, imagination."
    (Tujaun mereka adalah untuk meyebarkan cerita tentang Yesus yang dikemas sesuai dengan ajaran yang ditetapkan oleh gereja mereka yang dipungut dari berbagai sumber yang cocok dengan keinginan mereka: baik dari sumber sejarah, cerita dongeng, maupun khayalan).

Tanya

Mengapa murid-murid Yesus, keluarga, famili maupun pengikutnya tidak percaya pada Trinitas atau menyembah Yesus sebagai Tuhan?

Jawab

Mereka hidup siang malam dengan Yesus. Saudara-saudaranya, ibunya, familinya melihat Yesus lahir dan tumbuh sebagai seorang bayi. Dalam kenyataan seperti itu, mereka tentu tidak mungkin membayangkan bahwa yang menangis dalam ayunan atau basah guritanya adalah Tuhan yang pernah berpartisipasi dalam penciptaan jagat raya atau penguasa alam semesta. Begitu pula murid-murid seta para pengikutnya. Mereka melihat Yesus sebagai seorang Rabi (guru) mengajarkan Taurat dan berkhotbah di rumah ibadat setiap hari sabtu. Dari berbagai sumber yang dapat diperolah, tidak satu pun pertanda bahwa Yesus pernah disembah sebagai Tuhan di Rumah Ibadat. Murid dan pengikutnya mengenal dirinya sebagai pemimpin mereka, sebagai tuan mereka, malah sebagai nabi, tetapi sama sekali mereka tidak akan pernah menganggap bahwa yang naik berkhotbah di mimbar adalah "Tuhan penguasa alam semesta."

"Dan mereka berusaha menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada oranq banyak karena orang banyak itu mengangap dia nabi". (Matius 21:46)

Tanya

Apakah Yesus tidak membimbing murid-muridnya tentang siapa dirinya dan siapa Tuhan Allah?

Jawab

Yesus telah mengajarkan syahadah sebagai pegangan bagi murid-murid dan pengikut-pengikutnya agar tidak tercampak ke neraka.

"Inilah hidup yang kekal itu (masuk sorqa), yaitu bahwa mereka menqenal Engkau (Allah) satu-satunya Tuhan yang benar. Dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus". (Yohanes 17:3)

Kalau dibahasa Arabkan mirip dengan kalimat syahadat. "Asyhadu Allah ilaha illallah, wa asyhadu anna Isa Rasulullah"

Anak kalimat pertama "mengenal engkau satu-satunya Allah yang benar" berarti Allah (juga Tuhannya Yesus) adalah Tuhan yang benar. Jadi kalu ada Tuhan lain yang diperkenalkan orang, itu berarti tuhan-tuhanan saja, karena Tuhan yang benar hanyalah satu yakni Tuhan Allah. Dengan demikian Yesus bukan Tuhan. Anak kalimat kedua, "dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus", memperlihatkan bahwa Yesus di utus oleh Allah sebagai Rasul untuk bani Israil. Oleh karena itu Yesus bukan Tuhan karena dari semua Injil dalam Alkitab, tidak ada pernyataan bahwa Tuhan mengutus diriNya, melaikan Tuhan mengutus Yesus sebagai Rasul.

"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yanq Engkau berikan kepadaku untuk melakukannya". (Yohanes 17:4)

Dua zat yang berbeda Al-Khalik, Allah, dan makhluk, Yesus, tidak akan saling tumpah tindih satu sama lain. Allah tidak akan menerima perintah dari dirinya sendiri.

Untuk menghilangkan keraguan dan kebingungan perhatikanlah syahadat serupa yang diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Andaikata umat Kristiani tetap berpegang teguh pada ajaran Tauhid yang diajarkan Yesus, tentu mereka tidak akan begitu saja menerima ajaran asing untuk mempertuhankan Yesus, dan ajaran Trinitas tidak akan mencemari keimanan sekitar satu milyar penduduk bumi.

Tanya

Apakah benar bahwa Yesus bukan Tuhan yang harus di sembah?

Jawab Ya, benar!

1. Yesus mengajari umatnya agar hanya menyembah Allah. Dia tidak pernah memerintahkan murid-muridnya untuk menyembah dirinya dengan alasan bahwa Allah berada di dalam dirinya.

"Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah Engkau berbakti" (Matius 4:10)

" Karena itu berdoalah demikian: 'Bapa kami yang di sorga"' (Matius 6:9)

2. Yesus adalah guru Yahudi yang mengajarkan Taurat untuk hanya menyembah Tuhan Allah.

"Denqarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa". (Markus 12:29)

Kata "Tuhan itu Esa" berarti Tuhan tidak ada dalam diri Yesus. Andaikata Tuhan itu adalah dirinya, atau ada dalam dirinya, maka dengan tegas beliau akan mengatakan "Tuhan ini" sambil menunjuk dirinya.

3. Ketika Yesus akan ditangkap di taman Getsemani semua muridnya lari meninggalkan beliau.

"Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri" (Markus 14:50)

Coba bayangkan! Ketika "Tuhan" dalam keadaan genting mereka semua lari meninggalkan dia. Kepada siapa murid-muridnya mencari perlingdungan? Kepada setan? Bukankah yang mereka tinggalkan adalah Tuhan? Padahal "katanya" segala kuasa di sorga dan di bumi telah diserahkan oleh Tuhan Allah kepada "Tuhan" Yesus? (Matius 28:18)

Kalau memang murid-murid Yesus yakin bahwa Yesus adalah Tuhan Penguasa Alam Semesta, dimana segala kuasa disorga dan di bumi sudah diberikan kepada beliau, untuk apa mereka lari?

Ini ikut membuktikan bahwa Matius 28:18 adalah ayat palsu yang tidak pernah diucapkan oleh Yesus.

Disinilah akal sehat yang dianugrahkan Allah perlu digunkan untuk menyaring mana yang masuk akal, mana yang tidak. Kalau Tuhan berkehendak, sekali tiup saja, tentara Romawi sudah berterbangan seperti kertas di hembus badai.

Tetapi tidak! Mereka menyadari bahwa Yesus adalah pemimpin mereka. Namun mereka tidak pernah menganggap Yesus sebagai Tuhan yang mereka sembah. Buktinya dalam keadaan kepepet, mereka lebih memilih menyelamatkan diri dan membiarkan "Tuhan" mereka ditangkap dan dihukum salib oleh tentara Romawi.

Tanya

Kalau Yesus dengan jelas mengajarkan kepada umatnya untuk hanya menyembah Tuhan Allah, mengapa umat Kristiani masih saja menyembah Yesus?

Jawab

Sebagaimana dijelaskan bahwa menurut teologi Yunani, manusia yang berdosa tidak dapat berhubungan / minta tolong langsung kepada Tuhan yang mulia. Untuk menyelamatkan manusia dari dosa mereka, diperlukan perantara/ wakil Tuhan (Logos) untuk urusan dunia. Wakil Tuhan (Logos) inilah yang mengurusi segala tetek bengek kaluhan manusia. Para teolog yunani yang kemudian memeluk agama Kristen atau para pemimpin Gereja yang ingin mengawinkan ajaran Kristen dengan teologi Yunani, kemudian menganggap Logos yang roh telah menjadi manusia lengkap dengan daging dan tulang agar mudah menyelamatkan mereka untuk kembali bersatu dengan Tuhan.

Oleh sebab itu, agar manusia dapat bersatu dengan Tuhan kelak (similitudo), maka manusia harus berbaik-baikan dengan logos yang "katanya" sudah menjadi Yesus, menerimanya sebagai juru selamat, atau sekalian menyembahnya sebagai Tuhan karena ia telah "diserahi segala wewenang urusan dunia".

Kalau tidak, Yesus bisa saja "Lepas tanqan" atau "mempeti-eskan" permohonan pengampunan dosa manusia dan akibatnya manusia akan tetap menderita dikurung di pegadaian setan. Ajaran inilah yang diajarkan Paulus

kepada para penyembah berhala di Roma, Korintus, Efesus, Filipi,Tesalonika, Laudica dan lain-lain. Ajaran yang tidak pernah diajarkan Yesus ini, oleh Gereja kemudian ditetapkan sebagai salah satu doktrin ajaran kristen.

Yesus mengajarakan: "Bertobatlah kepada Allah". Paulus mengajarkan: "Bertobatlah kepada Yesus".

Umat Kristen ternyata ramai-ramai ikut ajaran Paulus. Disini jelas kelihatan bahwa umat Kristen lebih taat kepada Paulus daripada kepada Yesus.

Tanya

Apakah kalau seseorang menyembah Yesus sudah berarti sekalian menyembah Tuhan Allah, karena menurut Hamran Ambrie dalam bukunya "Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal Yang Esa" ha1.87, bahwa: "Allah yang roh itu tinggal diam atau berkarya atau berkuasa dalam pribadi Yesus. "? Untuk ini Hamran Ambrie mengutip Injil Yohanes 14:10)

"Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?" (Yohanes 14:10)

Jawab

1. Ayat diatas kalau hanya dibaca tersendiri akan dapat menyesatkan. Penjelasan Hamran Ambrie merupakan contoh yang paling baik bagaimana seseorang dengan iktikad tertentu memanfaatkan suatu ayat keluar dari konteksnya hanya karena didorong oleh keinginan untuk mempertuhankan Yesus.

Untuk itu baiklah kita ulas ayat diatas sesuai konteksnya agar lebih jelas.

• Dalam Injil Yohanes 14:10, Yesus mengatakan :

"Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku ".

Apa artinya ini? Apakah Allah ada di dalam diri Yesus seperti yang diklaim oleh Hamran Ambrie?

• Untuk memahaminya marilah kita menelusuri penjelasan dari Yesus sendiri. Perhatikanlah Yohanes 14:20: "Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam BapakKu dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu".

• Perhatikanlah baik-naik ayat ini. Kalau kita sepakat bahwa Allah bersatu dalam diri Yesus berdasarkan injil Yohanes 14:10, maka secara jujur kita pun harus menerima bahwa 12 murid-murid Yesus bersatu dalam diri Yesus dan Tuhan Allah menjadi 14 oknum dalam satu Tuhan berdasarkan Injil Yohanes 14:20.

• Lalu kalau kita mengatakan tidak dan memang tidak. Untuk apa arti kata "di dalam" tersebut?

• Jawabannya ada pada ayat-ayat berikutnya!

"Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapakku dan Aku pun akan mengasihi dia..." (Yohanes 14:21)

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu, tinggallah di dalam kasihku itu. Jikalau kamu menuruti perintahku, kamu akan tinggal di dalam kasihKu. Seperti aku menuruti perintah Bapaku dan tinggal di dalam kasihNya. " (Yohanes 15:9)

Tanpa diperjelas lagi, kedua ayat di atas sudah memberikan penjelasan yang terang benderang bahwa yang dimaksud dalam istilah "di dalam" pada Yohanes 14:10 adalah "di dalam kasih", bukan tumpang tindihnya Tuhan Allah yang Roh dalam tubuh Yesus! ! !

2. Dalam berbagai kesempatan, Yesus berdoa kepada Allah dengan menengadahkan kepalanya ke langit sambil mengangkat tangan memohon pertolongan Tuhan. Kalau Allah ada dalam dirinya, untuk apa lagi beliau mengangkat tangannya keatas serta menengadahkan kepalanya ke langit? Ada siapa diatas sana???

"... Yesus menengadah ke langit dan mengucapkan berkat,..." (matius 14:19)

"... Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan". ( Lu kas 3: 22 )

"Lalu Yesus menegadah ke atas dan berkata `Bapa, Aku mengucapkan syukur kepadaMu, karena Engkau telah mendengarkan aku". (Yohanes 11:41).

Kalau benar-benar Tuhan ada dalam dirinya, ya, diam saja atau komat­kamit sambil memandang dirinya sendiri. Dari semua ayat-ayat Alkitab, tidak satu pun yang memperlihatkan bahwa Yesus pernah berdo'a memohon kepada Allah yang ada dalam dirinya. Mudah-mudahan adegan yang tidak lucu ini, memang tidak pernah terjadi dalam kehidupan Yesus.

3. Setiap saat Yesus selalu mengatakan bahwa Allah ada di sorga, bukan dalam dirinya.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapakmu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48)

"Ingatlah, jangan kamu melalukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu di sorga. " (Matius 6:1).

4. Dalam berbagai kesempatan Yesus berdoa memohon kepada Allah serta mengajarkan umatnya untuk berdoa langsung kepada Tuhan Allah/Bapa. Yesus tidak pernah berperan sebagai perantara doa atau mengatakan kepada para pengikutnya untuk berdoa melalui dirinya, nanti beliau yang akan mengangkut doa-doa tersebut ke hadirat Tuhan Allah. "Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami di sorga, dikuduskanlah namaMu". (Matius 6:9).

5. Kalau memang Yesus sudah menyatakan dengan tegas bahwa dirinya adalah Tuhan yang harus di sembah, serta sudah ada standar untuk menyembahnya sejak beliau masih hidup, mengapa harus ada pertumpahan darah serta penganiayaan yang sedemikian hebat selama berabad-abad? Ini memperlihatkan bahwa di saat suatu golongan ingin mempertahankan Tauhid murni, golongan lain yang ingin mempertuhankan Yesus berusaha menyelipkan filsafat asing untuk merusak kemurnian Tauhid.

6. Tahun 325M dalam konsili di Nicea, Kaisar Romawi, Constatine, bersama pemimpin Gereja yang ingin mempertuhankan Yesus, menaklukkan kelompok Tauhid dan mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Yesus adalah Tuhan. Oleh sebab itu setiap ayat Injil yang mengarah kepada ketuhanan Yesus dapat dianggap sebagai ayat-ayat yang baru diciptakan kemudian.

Tanya

Mengapa orang-orang Romawi senang mempertuhankan Yesus?

Jawab

Karena mereka sangat rindu ingin melihat wajah dan tampang Tuhan berjalan di muka bumi. Selama ini tuhan-tuhan mereka adalah tokoh-tokoh khayalan seperti Zeus, Mithra, Osiris dan lain-lain, yang tidak ada kongkritnya di bumi. Istilah "Imanuel" (Tuhan bersama kita) adalah cetusan kerinduan yang menginginkan Tuhan hadir di depan mata mereka dalam jasad kasar. Oleh karena itu ketika Paulus memperkenalkan bahwa "Anak Allah yang baru" adalah Yesus yang pernah turun ke dunia beberapa puluh tahun yang lalu, mereka sangat berbahagia dan ingin segera memiliki pengalaman rohani dengan Anak Allah yang baru tersebut. Manakala mereka tidak melihat Yesus secara langsung, maka gambar atau patungnya pun sudah cukup untuk membayangkan bahwa mereka sudah berhadapan dengan Tuhan.

"Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankan Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?... Sia-siakah semua yang telah kamu alami (pengalaman rohani) sebanyak itu? (Galatia 3:1,4)

Gereja Romawi dan Gereja-gereja Bagian Barat lainnya menjadi pelopor ajaran Tuhan turun ke bumi mengambil bentuk manusia dalam diri Yesus. Keinginan ini tercermin jelas dalam cara mereka menafsirkan Kitab Kejadian 1:26 dimana manusia Yesus dianggap sebagai fotokopi Tuhan yang ada di muka bumi.

"Berfirmanlah Allah: `Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita" (Kejadian 1:26)

Tanya

Mengapa orang-orang Romawi butuh Tuhan yang turun ke bumi?

Jawab

Untuk menebus dosa mereka. Menurut filsafat Yunani, Adam sebagai manusia berdosa mewariskan dosanya kepada seluruh keturunannya. Agar dosa ini terampuni, seseorang yang memiliki keilahian harus menyelamatkan manusia melalui darahnya. Manusia seperti ini menurut Paulus adalah Yesus. Untuk memenuhi status baru ini, maka Yesus harus diberi gelar Anak Allah, Tuhan dan Juru Selamat. Dengan demikian Yesus menjadi Tuhan yang berjalan-jalan di bumi.

TIDAK SEMUA KRISTEN MEMPERTUHANKAN YESUS

Tanya

Apakah semua pemimpin Gereja setuju untuk mempertuhankan Yesus?

Jawab

Tidak! Sebelum abad ke IV para pemimpin Gereja disibukkan dengan bagaimana memformulasikan hubungan yang tepat antara Allah dan Yesus. Hubungan tersebut berkisar pada kedudukan Tuhan sebagai Bapak, dan Yesus sebagai Anak Tuhan. Atau hubungan antara Allah sebagai Tuhan yang Mulia, Baka dan Sempurna dengan Logos dari Allah sebagai perantara Tuhan dan manusia. Oleh karena itu sampai dengan awal abad ke IV para pemimpin Gereja umumnya masih berpendirian bahwa Tuhan Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib didembah. Kalau pun Yesus sudah mulai dikultuskan, masih dalam koridor Anak Allah atau Logos, dan bukan Tuhan. Arius misalnya, hanya mengakui Bapa (Allah) sebagai satu-satunya Tuhan, dan menganggap Yesus sebagai makhluk. Keadaan berubah secara drastis ketika Kaisar Romawi, Constantine, menyatakan masuk Kristen tahun 312 M. masuknya Kaisar ini disambut dengan semangat yang berapi-api oleh umat Kristen saat itu. Kaisar menetapkan Kristen sebagai agama Kerajaan. Walaupun hal ini disambut dengan gembira, beberapa kalangan saat itu mengkhawatirkannya. Tony Lane menjelaskan kesalahan yang mengerikan ini dalam bukunya Christian Thought hal. 11:

  • "...Some had doubts from the beginning, and it is increasingly fashionable today to regard the link as a horrible mistake...the asoption of Christianity as the state religion led to amassive influx of superficial converts from paganism. This resulted in declninf moral standard and the adoption of some pafan and idolatrous practices"
    (Sejak semula sebagian kalangan telah meragukannya, dan bertambah jelas seperti yang nampak saat ini bahwa hubunqan antar Gereja dan Kaisar merupakan kesalahan yang mengerikan....ketetapan (Kaisar) yang memutuskan Kristen sebagai agama Kerajaan menyebabkan membanjirnya para penyembah berhala yang sekedar masuk Kristen sebagai lambang. Ini menyebabkan jatuhnya standar moral dan masuknya ajaran penyembah berhala (kedalam ajaran Kristen)

Jalan menuju Ketuhan Yesus tidaklah mulus, malah penuh dengan pertumpahan darah. Namun ajaran Trinitas dari agama Mesir dan Babilonia, yang kemudian diidealkan oleh Plato, yang kemudian dianut oleh para pemimpin Gereja, menyebabkan lahirnya bibit-bibit pendukung Trinitas dalam Gereja Kristen. Mereka inilah yang berjuang mati-matian memasukkan ajaran Trinitas kedalam Kristen yang dimulai dengan upaya mempertahankan Yesus. Salah seorang tokohnya adalah Athanasius.

Tanya

Bagaimana para pendukung Athanasius memperoleh kemenangan untuk mempertuhankan Yesus?

Jawab

Ketika Constantine menjadi Kaisar Romawi, secara terbuka dia menyatakan diri sebagai pendukung Athanasius yang dianggapnya sesuai dengan latar belakang filsafat Yunani yang dia anut. Untuk menghabisi paham tauhid Arianisme, Kaisar menyarankan istilah "homoousios" yang pengertiannya adalah "Yesus satu zat denqan Allah". Tony Lane menambahkan:

  • "The Emperor himsel f advocated the word (homoousios), probably at the instigation of his western eclesiatical advisor....lt was a word which was congenial to the west, which since Tertullian had thouqht of the Trinity as three persons in one substance".
    (Kaisar sendiri menganjurkan (penggunaan) kata (homoousios), diduga atas anjuran penasehat spiritualnya....Kata tersebut dianggap cocok untuk (Gereja) bagian barat sejak Tertullian memperkenalkan Trinitas sebagai oknum dalam satu zat).

Tanya

Mengapa Athanasius berjuang mati-matian untuk mempertuhankan Yesus?

Jawab

Athanasius dibesarkan di Mesir, daerah yang sangat subur ajaran Trinitasnya. Di Mesir penduduk menyembah tiga Tuhan dalam satu: Osiris, Isis dan Horus. Disamping itu, ajaran Filsafat Platonis dan Stoa juga berkembang pesat di Alexandria, dimana Athanasius tinggal mengidealkan Trinitas agama Mesir. Bagi Athanasius yang sudah terbiasa di alam tiga Tuhan, ajaran tauhid para pengikut Kristen saat itu dirasakannya sangat mengganggu. Oleh karena itu arus masuknya para penyembah berhala ke dalam Kristen serta didukung Kaisar Romawi untuk mengawinkan ajaran Kristen dengan ajaran penyembah berhala di kerajaan, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Athanasius untuk menghabisi ajaran tauhid yang masih bercokol di kalangan Kristen. Menurut filsafat Yunani, walaupun Tuhan sangat ingin menyelamatkan manusia, namun tidak mungkin langsung dapat melakukannya. Untuk menyelamatkan manusia, Tuhan menggunakan perantara yakni Logos. Karena pemimpin Gereja menginginkan Yesus sebagai Logos, sehingga Yesus selanjutnya harus menduduki posisi Logos. Inilah yang diperjuangkan oleh Athanasius agar Yesus menduduki posisi baru sebagai Logos penyembah berhala yang akan menjalankan fungsi Anak Tuhan dan Juru Selamat.

S.E.Frost Jr. dalam bukunya Basic Teachinq of the Great Philosophers ha1.110 menjelaskan:

  • "God as we have seen conceived as pure, holy, perfect. Thus it became necessary to introduce an intermediate being, the Logos, to account for the cretion of the universe. Many thinkers identify this beinq (Logos) with Christ..."
    (Tuhan sebagaimana paham filsafat Platonis dianggap suci, mulia dan sempurna. Oleh karana itu diangap penting untuk memperkenalkan perantara, yakni Logos (Firman), untuk menciptakan jagat raya. Beberapa ahli pikir kemudian menganggap Logos ini adalah Kristus (Yesus).

Tanya

Hamran Ambrie dalam bukunya "Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal Yang Esa" mengutuip Kitab Kisah para Rasul 2:36:

"Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa (Tuhan) Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus" (Kis.2:36)

Dengan menggunakan ayat diatas Hamran Ambrie mengatakan bahwa umat Islam telah keliru menuduh umat Kristen mengangkat Yesus menjadi Tuhan.

Jadi jelaslah bahwa persangkaan orang-orang Muslim yang sering menuduh bahwa orang-orang Kristen sendirilah yang mengangkat Yesus menjadi Tuhan adalah keliru... melainkan memang penyebutan Tuhan itu justru datangnya dari Allah itu sendiri...."

Apakah benar orang-orang Muslim keliru ?

Jawab

Jangan sampai Hamran Ambrie sendiri yang keliru atau dia sengaja ingin mengelirukan orang. Orang Muslim sesungguhnya tidaklah keliru. Allah tidak pernah mengangkat Yesus sebagai Tuhan sebagaimana yang diakui oleh Hamran Ambrie. Sebenarnya yang mengangkat Yesus sebagai Tuhan adalah orang-orang Kristen di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). LAI melencengkan terjemahan "Kyrios" dan "Lord" dalam Injil.

Sekarang logikanya saja, untuk apa Allah membuat Tuhan??? Dalam agama Tauhid pernyataan ini tidak ada jawabannya. Tetapi bagi penyembah berhala Platonis dan Stoic, Tuhan yang mulia harus membuat Logos untuk menyelamatkan dunia yang berdosa.

Dalam Alkitab dengan jelas dapat dibedakan. Kalau ayatnya mengatakan Allah Juruselamat kita, berarti itu adalah sisa-sisa yang masih terdapat dalam Alkitab. Tetapi kalau ayatnya mengatakan Yesus Juruselamat kita berarti ajaran penyembah berhala telah merasuk dalam Alkitab.

Namun yang ingin dijelaskan disini adalah bagaimana Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Alkitab sehingga lahirlah terjemahan ayat seperti yang diperlihatkan oleh Hamran Ambrie.

Pada saat Lembaga Alkitab Internasiaonal menerjemahkan Alkitab bahsa Yunani kedalam bahasa Inggris, kata "Kyrios" yang berarti "Tuan/Boss" diterjemahkan menjadi "Lord" atau "Sir" yang juga berarti "Tuan/Boss".

Misalnya :

Land Lord = Tuan Tanah

Drug Lord = Tuan/Boss Obat terlarang

Gambling Lord = Tuan/Boss Judi

Lord of the Universe = Tuan Alam Semesta (Tuhan).

Namun Lembaga Alkitab Indonesia bukannya menerjemahkan "Kyrios" dan "Lord" sebagai "Tuan" tetapi "Tuhan". Memang untuk ini, LAI tidak perlu bekerja membanting tulang. Cukup dengan membubuhkan huruf "h" di tengah­tengah kata "Tuan" maka sim salabim, seorang makhluk dalam sekejap berubah menjadi Khalik (Pencipta). Dengan cara ini Lembaga Alkitab Indonesia dengan sengaja telah merubah Yesus "Tuan/Pemimpin umat Israel menjadi "Tuhan yang olehnya segala sesuatu telah dijadikan", persis seperti Logos penyembah berhala Platonis. Terjemahan yang dipaksakan ini akhirnya menjadi janggal di telinga mereka yang mendengarnya. Apalagi ketika kata "Tuhan" diterapkan kembali ke pasangan kata seperti diatas, maka artinya menjadi lain.

Land Lord tentu sudah tidak sama dengan Tuhan Tanah. Gambling Lord tentu sudah tidak sama dengan Tuhan Judi.

Kalau Lord of the Universe dapat saja berarti Tuan atau Tuhan, karena Tuan semesta alam adalah Tuhan. Disinilah letak ketidak-jujuran Lembaga Alkitab Indonesia dalam menerjemahkan Alkitab dengan benar.

Sebagaimana diketahui, kata Tuan digunakan untuk manusia, terkecuali Tuan semesta alam adalah Tuhan. Tetapi kata "Tuhan" sudah jelas tidak digunakan untuk manusia, terkecuali bagi para penyembah berhala.

Peratikanlah kejanggalan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia atas kata "Kyrios" dan "Lord" yang diterjemahkan sebagai Tuhan.

"Tuhan, Enqkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam..." (Yohanes 4:11)

"Tuhan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang Nabi" (Yohanes 4:19) "Siapakah Engkau, Tuhan?" (Kis. 9:5)

Coba bayangkan, untuk apa timba bagi Tuhan? Yang perlu timba hanyalah manusia! Selanjutnya, dari mana perempuan Samaria tahu bahwa yang perlu timba dihadapannya adalah Tuhan Penguasa Alam Semesta? Sungguh aneh, untuk "memberi makan 5.000 orang" Tuhan mampu, sementara untuk memperoleh seteguk air saja, Tuhan harus menunggu diberi timba.

Perhatikanlah ayat berikut ini (Yohanes 4:11) dalam teks bahsa Inggris di berbagai versi Alkitab :

1. "Sir," the woman said, 'you haven't qot a bucket..."
(Good News Bible, 1976)

2. "The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with..."
(Holy Bible Authorized King James Version)

3. "Sir" she challenger him, "You do not have bucket..."
(The New Testament of the New American Bible, 1970)

4. "She said to him: "Sir, you have not even a bucket..."
(The Kingdom Interlinear Translation of The Greek Scroptures, 1985)

5. "The woman said to Him, "Sir, you have nothing to draw with,..."
(New Tastament, Psalms, Proverbs, 1982)

6. "The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with..."
(The First Scofield Reference Bible, 1986)

Dari ayat-ayat yang dikutip dari berbagai versi Alkitab bahasa Inggris diatas, nyata dan jelas bahwa penggunaan kata Sir adalah identik dengan kata Lord yang artinya Tuan, bukan Tuhan (God)!

Perlu disadari bahwa tidak ada satu pun kamus bahasa inggris di muka bumi ini yang menerjemahkan kata "Sir" sabagai "Tuhan"!

Dalam Yohanes 4:19, perempuan Samaria tersebut menyebut Tuhan sebagai orang yang artinya menyamakan Tuhan Pencipta (Khalik) dengan yang dicipta (makhluk). Padahal dalam berbagai versi Alkitab berbahasa Inggris Yesus dalam ayat ini disapa dengan Sir atau Tuan, bukan Tuhan!

Yang lebih aneh lagi adalah pertanyaan Paulus dalam Kis.95. "Siapa Engkau, Tuhan?". Kalau Paulus benar-benar bertanya demikian, kita tentu wajar mempertanyakan: Apakah Paulus sudah pikun atau tidak waras?". Lucu amat Paulus sebagai pendiri agama Kristen tidak tahu dan masih bertanya siapa Tuhannya. Ini sungguh keterlaluan!

Tetepi kalau kata "Kyrios" atau "Lord" diterjemahkan dengan kata "Tuan", kan enak dan pas dibaca.

"Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam..." (Yohanes 4:11)
"Tuan, nyata sekaranq padaku bahwa Engkau seoranq Nabi" (Yohanes 4:19)
"Siapakah Engkau, Tuan?" (Kis. 9:5)

Camkanlah istilah tepat yang digunakan Yesus untuk dirinya sendiri.

"Janqanlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias (Yesus)" (Matius 23:10)

Kalau memang Yesus adalah Tuhan tentu beliau akan berkata: "Janganlah pula kamu disebut Tuhan, karena hanya satu Tuhanmu yaitu diriku (Yesus)"

Oleh karena itu sangat menyedihkan betapa tokoh besar seperti Hamran Ambrie bisa keliru dan disesatkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Padahal maksud ayat tersebut adalah: "Allah menjadikan Yesus sebagai tuan/pemimpin dan rasul untuk Bani Israil.

Tanya

Kapan S. K. Ketuhan Yesus ditetapkan, dan oleh siapa?

Jawab

S.K. Ketuhan Yesus ditetapkan pada konsili di Nicea tanggal 20 Mei 325M. Kaisar Romawi Constantine, menghimpun 220 uskup di Nicea tahun 325. Sebagian besar mereka berasal dari Gereja bagian Timur yang mendukung Athanasius. Kosili memutuskan mengutuk paham tauhid Arius dan mengumumkan kredo (creed) anti Arian yang dikenal dengan nama "the Creed of Nicea". Dalam konsili inilah diterbitkan S.K. Ketuhan Yesus dan sejak saat itu Yesus diresmikan sebagai Tuhan, malah sekaligus ditetapkan sebagai Tuhan yang sesungguhnya (true God), 300 tahun setelah Yesus tiada. Dalam konsili inilah Kaisar Romawi menetapkan bahwa Yesus satu zat dengan Allah (Homoousios).

  • "He (Jesus) is God from God, Light from Light and true God from true God"
    (Dia (Yesus) adalah Tuhan yang berasal dari Tuhan, Cahaya yang berasal dari Cahaya, dan Tuhan Sesungguhnya yang berasal dari Tuhan yang sesungguhnya)

Sejak saat itulah Tuhan menjadi dua yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus yang harus dipercayai bahwa keduanya bersatu padu dalam satu zat (homoousios) sebagaimana yang diputuskan oleh Kaisar Romawi.

Tanya

Apakah ada ketetapan resmi untuk menyembah Yesus sebelum abad ke IV?

Jawab

Belum ada! Dalam kitab "Shepherd of Hermes" nama Yesus sama sekali tidak disebut-sebut.

  • "First of all( belive that God is one, who hs made all thing, bringing them out of nothing into being".
    (Pertama-tama percayalah bahwa Tuhan itu Esa, yang menciptakan segala makhluk, dari tidak ada menjadi ada)

Selanjutnya dalam Apostle Creed yang menurut Gereja ditulis oleh para rasul diperkirakan ditulis pada akhir abad ke II, ada menyebut nama Yesus, tetapi bukan sebagai Tuhan yang disembah.

  • "And in Jesus Christ, his onl y Son, our Lord..."
    (Dan di dalam Yesus Kristus, anaknya yang tunggal, tuan kita)

Kredo ini telah mengalami beberapa kali tambahan dan perubahan sepanjang abad ke IV dan ke V untuk disesuaikan dengan perkembangan ajaran kristen.

Tanya

Kesulitan apakah yang dihadapi Gereja sehingga dibutuhkan waktu sekian ratus tahun untuk mengangkat status Yesus dari sekedar Nabi menjadi "Tuhan penguasa alam semesta"?

Jawab

Pertama, di abad pertama perkembangan agama Kristen, persoalan yang cukup berat muncul di permukaan. Bagaimana caranya agar Tuhan Filsafat Yunani yang Mulia, dan sempurna, dapat menyelamatkan manusia yang berdosa dan tidak sempurna. Untuk mengatasi hal ini, logos filsafat Yunani digunakan sebagai perantara Tuhan dan manusia. Beberapa ahli pikir Yunani yang memeluk agama kristen memandang Yesus sebagai Logos filsafat Yunani (Frost, 1989).

"Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita..." (Yohanes 1:14)
"
...Kristus Yesus yanq walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah, itu sebaqai milik yanq harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seoranq hamba dan menjadi sama denqan manusia" (Filipi 2:5-7)

Tetapi karena Logos bukan Tuhan sehingga otomatis Yesus pun bukan Tuhan.

Kedua, ketika Gereja mulai berusaha mengangkat status Yesus menjadi Tuhan, problem lain tampil ke permukaan. Bagaimana caranya mengangkat status Logos yang lebih rendah dari Tuhan ini menjadi setara dengan Tuhan. Untuk mengatasi hal ini, Gereja memperkenalkan ide Logos (Firman) adalah Tuhan Allah.

"Pada mulanya adalah Firman Logos Firman Logos itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman Logos itu adalah (dari) Allah. la Logos pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia Logos dan tanpa Dia (Logos) tidak ada sesuatu pun yanq telah jadi dari seqala yanq telah dijadiakan" (Yohanes 1:1-3)

Paham penyembah berhala ini digunakan sebagai senjata pamungkas oleh para penginjil (Termasuk Hamran Ambrie) untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dengan menempatkan Yesus sebagai Logos penyembah berahala. Dengan demikian, tuhan Allah (yang "katanya" adalah Logos) yang berada di sorga sudah turun ke bumi mengambil bentuk manusia dalam diri Yesus.

Dalam buku "Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal", hal 94, Hamran Ambrie mengatakan:

"Dulu wahyu melalui mimpi etc. disebut Firman, tetapi kemudian (setelah ajaran Kristen dicemari filsafat Yunani), Firman itu sendiri menjadi daging kehiduopan melalui kelahiran seorang manusia Maria, maka penyebutan firman itu pun berubah menjadi "Anak Allah".

Catatan : tambahan dalam kurung dimaksudnya untuk memperjelas.

Konsep penyembahan berhala sudah ranum ini, akhirnya tersaji dalam SK Ketuhanan Yesus yang disponsori bersama oleh Kaisar Romawi, Constantine dan para pemimpin Gereja pada Konsili di Nicea 20 Mei 325 M.

Tanya

Dapatkah kita menganggap the Creed of Nicea sebagai formulasi dan definisi Trinitas?

Jawab

Tidak! Karena Konsili tidak pernah menganggap Roh Kudus sebagai Tuhan atau sesuatu yang harus disembah. Dalam konsili tersebut tidak pernah dibahas tentang Roh Kudus. Nanti belakangan, Gereja kemudian menambahkan kalimat tentang Roh Kudus dalam kredo tersebut (Karen Armstrom 1993). "And in the holy Spirit" (Dan dalam Roh Kudus).

Tanya

Siapa yang pertama memberikan perhatian serius terhadap status Roh Kodus?

Jawab

Athanasius! Sampai dengan pertengahan abad ke IV perhatian Gereja dicurahkan pada bagaimana bentuk dan corak hubungan antara Bapa (Tuhan) dan Anak (Yesus). Kalimat yang baru ditambahkan dalam Kredo: dan dalam Roh Kudus, memperlihatkan betapa kecilnya perhatian yang diberikan terhadap status Roh Kudus. Dalam tulisannya "Oration Aqainst the Arians 2:24, 33", athanasius mempromosikan ketuhanan Yesus tanpa menyinggung-nyinggung Roh Kudus. Selanjutnya pada suratnya kepada Serapion berubahlah dia berbicara tentang status Roh Kudus.

Buku The Paqanism in Our Christianity yang dikutip oleh M.A.C Cave menjelaskan :

  • "The early Christians, however, did not at first think of applinq the (Trinity) idea to their own faith. They paid their devotions to God the Father and to Jesus Christ, the Son of God, and they recognizes the....Holy Spirit; but there was no thought of this three being an actual Trinity, co-equal, and united in one".
    (Umat Kristiani dulu, pada kenyataannya, tidak pernah berfikir untuk menganut paham Trinitas. Perhatian mereka tercurah pada (hubungan) Tuhan Bapa dan Yesus Kristus, Anak Tuhan, dan mereka mengenal.... Roh Kudus, tetapi tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa ketiganya bersatu dan setara dalam Trinitas).

Tanya

Kapan S.K. untuk menyembah Roh Kudus di tetapkan?

Jawab

Pada Konsili di Konstantinople yang didelenggarakan dari bulan Mei s/d Juli 381M. Konsili ini dapat dikatakan Konsili para pemimpin Capadocian yang mendukung Trinitas. Gregory dari Nazianzus (329-389M), yang merupakan tokoh Capadocian memperkenalkan formula Trinitas dalam bukunya "Five Theological Oration", hal. 39:

  • ".... Godhead is one in three and the three are one.... "
    (Kesatuan Tuhan itu adalah satu dalam tiga dan ketiganya adalah satu)

Dia memainkan peranan penting dalam menggolkan ajaran Trinitas dalam konsili. Kaisar Theodorius yang merupakan pendukung Ketuhanan Yesus ingin sekaligus menghabisi paham Tauhid Arius. Dalam konsili inilah untuk pertama kali dinyatakan bahwa Roh Kudus harus disembah.

  • "And in the Holy Spirit, the Lord and life giver, who proceeds from the Father. Toqether with the Father and the son he is worshipped and glorified".
    (Dan dalam Roh Kudus, Tuan dan pemberi hidup, yang datang dari bapa. Bersama dengan Bapa dan Anak dia disembah dan dimuliakan).

Tanya

Apakah Konsili di Constantinople memutuskan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan?

Jawab

Tidak! Walaupun dalam Konsili ini Roh Kudus dinyatakan sebgai obyek yang disembah, tetapi belum dinyatakan sebagai Tuhan.

Tanya

Mengapa Konsili tidak sekalian memutuskan Roh Kudus sebagai Tuhan?

Jawab

Konsili ini juga dihadiri oleh 36 Uskup Macedonia yang menentang keras segala bentuk penyenbahan terhadap Roh Kudus. Mereka berpendirian bahwa Roh Kudus hanyalah makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu dia bukan Tuhan, sehingga tidak perlu disembah. Namun karena para uskup Capadocia jumlahnya lebih banyak sehingga para uskup Macedonia kalah. Dalam penentuan apakah Roh Kudus adalah Tuhan atau tidak, bantahan mereka masih didengar. Namun ketika para uskup Capadocia ngotot untuk menyembah Roh Kudus, akhirnya para uskup Macedonia menyerah dan meninggalkan ruangan konsili (walk out).

Tanya

Kapan ide lengkap tentang Trinitas pertama kali dijelaskan?

Jawab

Antara tahun 359-360M ketika Athanasius didesak untuk menghadapi kelompok Tropici dari Mesir yang mengajarkan bahwa Roh Kudus hanya sekedar makhluk yang diciptakan dari tidak ada menjadi ada. Uskup mereka, Serapion, yang tidak mampu menghadapi mereka meminta tolong pada Athanasius. Dalam suratnya "Letter to Serapion", Atahnasius untuk pertama kalinya menjelaskan secara detail tentang Teologi Trinitas.

Tanya

Apakah Athanasian Creed merupakan formulasi yang ditampilkan oleh Athanasius kepada Serapion?

Jawab

Tidak! Athanasian Creed bukanlah sebuah kredo dan juga tidak ditulis oleh Athanasius. Gereja yang tidak tahu siapa penulis Athanasian Creed, menganggapnya di tulis oleh Athanasius hanya karena dia dianggap sebagai pencipta ajaran Trinitas.

Tanya

Apa yang diulas atau diputuskan oleh Athanasian Creed?

Jawab

Athanasian Creed yang diperkirakan ditulis pada abad ke VI menetapkan sesuatu yang dapat dianggap sebagai formulasi dan fefinisi akhir dari Trinitas. Ketetapan penting yang tercantum dalam Kredo ini adalah diumumkannya S.K. Ketuhana Roh Kudus.

  • "Thus the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God. Yet there are not three God but only one God".
    (Bapak adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun bukan tiga Tuhan tetapi hanya satu Tuhan. )

Tanya

Apakah perbuatan para Kaisar Romawi dan pemimpin Gereja yang selama beratus tahun mengutak atik Yesus dan Roh Kudus untuk dipersandingkan dengan Allah dalam kesatuan Trinitas, diilhami oleh Yesus?

Jawab

Bukannya diilhami tetapi malah dimarahi. Yesus sama sekali tidak dapat menerima mereka yang menyembahnya, dengan mengikuti ajaran penyembah berhala yang di ajarkan manuasia (Plato dan Zeno). Sementara Yesus sendiri mengajarkan pada umat Israel untuk hanya menyembah Allah.

"Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaku. Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan a jaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia" (Matius 15:8-9)

Berbagai kredo yang dihasilkan oleh konsili bukan merupakan penjelasan atau konfirmasi dari Allah atau Yesus tentang siapa Tuhan sebenarnya, melainkan sekedar pertarungan antar pendapat yang selalu dimenangkan oleh kelompok yang didukung Kaisar. Hal ini dijelaskan oleh Uskup John Shelby Spong dalam bukunya: Why Christian must Change or Die, 1998, hal 18.

  • "The purpose of every written creed historically was not to clari f y the truth o f God. It was, rather, to rule out some contending point o f view."
    (Tujuan dari setiap kredo (yang dihasilkan di setiap konsili) bukan untuk menjelaskan siapa sesungguhnya Tuhan, tetapi sekedar untuk menyingkirkan pendapat yang tidak sejalan (dengan yang dianut Kerajaan dan Gereja)

Oleh karena itu Yesus tidak punya urusan dengan ajaran maupun definisi Trinitas sebagaimana yang dianut oleh umat Kristiani saat ini. Yesus tidak pernah mengajarkan Trinitas kepada murid-muridnya, apalagi bermimpi bahwa dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas. Hal ini ditegaskan oleh A.N.Wilson dalam bukunya Jesus A Live, 1992, hal XIV:

  • "I had to admin that I found it impossible to believe that a f irst century Galilean holy man (Jesus) had at any time o f his li f e believed himsel f to be the Second Person o f the Trini ty. "
    (Saya harus mengakui bahwa memang musthahil untuk mempercayai bahwa orang suci dari Galilea di abad I (Yesus) pernah sekali saja dalam hidupnya merasa dirinya sebagai oknum kedua dari Trinitas)

Gerejalah yang menciptakan Matius 28:19 dan menyuapkannya kepada Yesus untuk diucapkan.

"Karena itu pergilah, jadikanlah senua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus".

Apa yang diajarkan oleh Yesus adalah tauhid (Ke-Esa-an Allah).

ARTI LOGOS DALAM FILSAFAT YUNANI


Tanya

Apakah yang dimaksud dengan Logos dalam filsafat Yunani?

Jawab

Logos adalah perantara antara Tuhan dan Manusia. Tuhan dipandang mulia, roh, dan baka, sedangkan manusia dianggap dosa and fana. Adanya perbedaan antara Tuhan dan manusia inilah yang menyebabkan Tuhan yang mulia tidak dapat berhubungan dengan dunia dan manusia yang berdosa. Untuk memenuhi keinginan Tuhan yang ingin menyelamatkan manusia dan dunia yang berdosa, Tuhan memerlukan perantara yang kedudukannya berada di bawah Tuhan, tetapi diatas manusia. Perentara ini dalam Filsafat Yunani disebut Logos, yang kemudian oleh Lembaga Alkitab Indonesia disebut Firman. Padahal firman menurut Yesus sendiri adalah wahyu yang diterimanya dari Tuhan Allah:

"Tetapi Yesus menjawab: 'Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah"' (Matius 4:4)

"Baranqsiapa menolak aku, dan tidak menerima perkataanku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yanq telah kukatakan, itulah yanq akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus aku..." (Matius 12:48-49)

"Dan aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang aku katakan, aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh bapa kepadaku". (Yohanes 12:50)

Tanya

Mengapa tidak sekalian saja menyebut Yesus dengan panggilan Logos atau Firman Tuhan tanpa harus menyebutnya Anak Allah (Tuhan)?

Jawab

Permasalahan yang dihadapi Gereja adalah bahwa Logos dalam filsafat Yunani adalah roh, sementara Yesus adalah manusia yang lengkap dengan tulang dan daging. Oleh karena itu, agar Logos penyembah berhala dapat diterapkan pada diri Yesus, maka Gereja kemudian menyatakan bahwa Logos telah menjadi deging, turun ke dunia, lahir melalui rahim seorang perawan, dan menjadi Anak Allah dalam diri Yesus.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16)

"Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraanya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia". (Filipi 2:6-7)

Dengan demikian gelar "Anak Allah" dibutuhkan sebagai gerbang pertemuan antara Yesus dan Logos. Agar Yesus dapat tiba pada keilahian Logos, ia harus melalui "gerbang" Anak Allah. Sementara bagi Logos untuk menjadi manusia harus lahir dari perawan melalui intervensi Roh Kudus, sehingga anak yang dilahirkan menjadi Anak Allah.

"Jawab malaikat itu kepadanya: 'Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yanq Maha Tinggi akan menaunqi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah" (Lukas 1:35).

Tanya

Apakah Logos adalah Tuhan?

Jawab

Karena logos dalam filsafat Yunani adalah perantara antara Tuhan dan manusia, sehingga kedudukannya lebih rendah dari Tuhan oleh karena itu Logos bukan Tuhan.

Tanya

Lalu bagaiamana Logos yang kedudukannya lebih rendah dari Tuhan, kemudian dapat menjadi Tuhan atau setara dengan Tuhan?

Jawab

Philo dari Alexandria memperkenalkan ide Logos dari Tuhan tanpa iktikad mempersamakan Logos dengan Tuhan, jauh sebelum penulisan Injil Yohanes.

"Pada mulanya adalah Logos (Firman), Logos (Firman) itu bersama dengan Tuhan dan Logos (Firman) itu berasal dari Tuhan".

Dalam hymne Platonis (Yohanes 1:1-14) yang diperkenalkan oleh Philo ini, Logos bukan Tuhan, tetapi lebih tepat disebut "firman Tuhan". Penyalin Injil Yohanes kemudian memetik hymne ini dan menempatkannya sebagai pembukaan Injil Yohanes. Tidak hanya sampai disini. Penyalin kemudian merubah anak kalimat:

"Dan Logos itu berasal dari Tuhan" menjadi "Dan Logos itu adalah Tuhan".

Pencaplokan ajaran Platonis ini oleh penyalin Injil Yohanes dijelaskan oleh Santo Augustinus dalam bukunya The Confession of Saint Augustine di bawah sub judul : Kitab Suci dan Filsafat Penyembah Berhala.

  • "...Book of the Platonists that had been translated out of Greek into Latin. In them 1 read, not indeed in these words but much the same thought, enforced by many varied argumenents that: In the beginning was the word, and the word was with God. All things ware made by him, and without him nothing was made"

    (...Buku filsafat Platonis yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Di dalamnya saya baca, walaupun tidak sama persis tetapi jalan pikirannya mirip, didukung dengan berbagai argumen bahwa : Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Tuhan dan Firman itu adalah (dari) Tuhan. la (firman) pada mulanya bersama dengan Tuhan. Segala sesuatu dijadiakan oleh dia (firman) dan tanpa dia (firman) tidak ada yang di jadikan).

Catatan kaki Alkitab The New Testament of the New American Bible, 1970 hal 203, memberikan alasan yang memperkuat pendapat bahwa Yohanes 1:1-18 bukan merupakan bagian dari Injil Yohanes, tetapi merupakan karya lepas yang baru dimasukkan sebagai pembuka Injil Yohanes oleh penyalin:

  • John 1:1-18; "The prologue is a hymn, formally poetic in style - perhaps originally an independent composition and only later adapted and edited to serve as an overture to the gospel"

    (Yohanes 1:1-18; Pembukaan ini merupakan hymne, berbentuk syair - mungkin berasal dari karya bebas, yang hanya belakanqan baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai intro (pembuka) dari Injil).

Kesengajaan Gereja untuk mempersamakan Logos dengan Tuhan diperlihatakan oleh Athanasius dalam bukunya "The Incarnation of the Word" yang ditulis pada tahun 318M hal.4, dengan mengatakan:

  • "For our salvation he loves us so much as to appear and be born in human body".

    (Demi keselamatan kita dia mencintai kita sedemikian rupa sehingga dia hadir dan dilahirkan dalam bentuk manusia)

Dengan demikian karena menurut Gereja Yesus adalah Logos, dan menurut Gereja pula, Loqos adalah Tuhan Allah sehingga sim salabim, Yesus adalah Tuhan Allah yang nampak, pesis seperti apa yang diinginkan Hamran Ambrie.

Semoga dengan penjelasan ini umat Islam tidak kaget lagi dan tahu persis dari mana asal-usul "Firman (Yesus) adalah Allah yang nampak", sebagaimana yang dituduhkan oleh Hamran Ambrie.

Tanya

Mengapa filsafat Yunani tentang Logos menjadi fondasi doktrin keimanan Kristen tentang Yesus?

Jawab

Para pemimpin gereja dan penginjil di kerajaan Romawi adalah pemeluk ajaran filsafat Yunani atau setidaknya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yunani. Tony Lane dalam bukunya "Christian Thought" mengatakan:

  • "The view of the fall owes more to Greek philosophy and to Origen than to the Bible".

    (Pandangan tentang kejatuhan (dalam dosa) lebih banyak dipetik dari filsafat Yunani dan Origen dibanding dari Alkitab)

  • "The Platonist element is not like the icinq on a cake or the currant in it which can remove, but like the sherry flavoring which is inseparable from the cake itself"

    (Elamen Platonis (dalam Kristen) bukan seperti hiasan atau kismis pada kue yang dengan mudah ditinggalkan, tetapi seperti aroma yang sudah menyatu dengan kue itu sendiri)

Paul Tillich dalam bukunya "A History of Christian Thought" menjelaskan bagaimana ajaran teology Yunani merasuk kedalam doktrin Trinitas melalui Logos (Firman).

  • "Christianity took from its great vompetitor (Stoic) many fundamental idea. The first is the doctrine of the logos, a doctrine that may bring you to despair when you study the history of Trinitarian and Christianity can not be understood without it"

    (Kristen menganut dari saingannya (Filsafat Stoa) berbagai ajaran dasar. Yang pertama adalah ajaran tentang Logos (Firman), suatu ajaran yang dapat membuat anda kecewa manakala anda mempelajari sejarah trinitas dan pemikiran Kristen Pertumbuhan ajaran Kristen tidak dapat dimengerti tanpa bersandar pada ajaran ini (Stoa).

Justine Martyr dengan bangga mengatakan:

  • "This is (Platonis) the only philosophy which 1 have found certain and adequate".

    (Ini (Platonis) adalah satu-satunya filsafat yang menurut saya cocok dan pantas).

  • And vice versa he said: "Those who live according to the Logos, are Christians".

    (Dan sebaliknya dia berkata: " Mereka yang menganut Logos, adalah Kristiani).

Tanya

Apakah Yesus mengajari murud-muridnya dan umat Israel tentang Logos , atau apakah beliau pernah mengatakan bahwa dia adalah Logos?

Jawab

Ketika Yesus diuji oleh Ahli Taurat dan orang-orang Saduki, apakah beliau sudah tercemar oleh filsafat Yunani atau masih mempertahankan tauhid, beliau memberikan jawaban yang tegas:

"Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa". (Markus 12:29)

Disaat yang sangat penting dan ditunggu-tunggu oleh pemuka agama Yahudi ini, Yesus tidak pernah menyebut-nyebut Logos atau menyatakan dirinya sendiri sebagai Logos (Firman hidup). Oleh karena itu para pemuka agama yahudi merasa lega dan mengetakan:

"Tepat sekali, guru, benar katamu itu, bahwa Dia (Tuhan Allah) esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia (Tuhan Allah)". (Markus 12:32)

Tanya

Siapa yang menganjurkan untuk menyembah Logos/Firman?

Jawab

Yang menganjurkan menyembah logos adalah Justine Martyr (100-165 M). dia terlahir dan dibesarkan dalam keluarga penyembah berhala (Delaney 1983). Dalam upayanya untuk mengawinkan ajaran Kristen dan filsafat Yunani dalam bukunya "2 Apology 13", dia mengatakan:

  • "For next to God we worship and love the Word (Logos), who is from the unbegotten an ineffable God, since he also became man for our sakes".

    (Selain Tuhan, kita menyembah dan mencintai Firman (Logos) yang berasal dari Tuhan yang tidak diperanakkan dan tidak dicipta, yang juga menjadi manusia demi untuk kita).

Dalam pernyataannya ini, Logos Yunani yang telah menjadi daging, ikut disembah sebagai obyek lain disamping Tuhan. Kata "next to" (kemudian dari, selanjutnya) memberikan gambaran bahwa obyek lain tersebut kedudukannya lebih rendah dari Tuhan. Apalagi Justin Martyr tidak pernah mengatakan bahwa Logos/Yesus adalah Tuhan.